Indonesia Darurat Matematika | BABEGUS.COM

Indonesia Darurat Matematika

Indonesia Darurat Matematika

Jakarta, Babegus.com – Peneliti dari Research on Improvement of System Education (RISE) 2018, Niken Rarasati, mengatakan, berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh pihaknya, Indonesia saat ini sedang darurat matematika. Hasil studi menunjukkan bahwa kemampuan siswa memecahkan soal matematika sederhana tidak berbeda secara signifikan antara siswa baru masuk sekolah dasar (SD) dan yang sudah lulus sekolah menengah atas (SMA) .

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, menyambut baik. Menurut dia, semua langkah yang bermaksud ingin memecahkan persoalan pendidikan Indonesia harus disambut dan diapresiasi.

“Semua langkah yang bermaksud ingin memecahkan persoalan pendidikan di Indonesia harus disambut dan diberi apresiasi, termasuk deklarasi tersebut. Syukur jika deklarasi tersebut terus diikuti dengan langkah-langkah konkret,” kata Muhadjir kepada SP, Senin (12/11).

Muhadjir menuturkan, Kemdikbud saat ini sedang mempercepat dan memperluas pelatihan guru matematika, IPA dan bahasa untuk mendalami strategi pembelajaran kemampuan berpenalaran tinggi (high order thinking skills atau HOTS).

Ribuan Marketer sudah memakai tool ini untuk

Mengelola semua akun media sosial Facebook & Instagram

Nikmati kemudahan, posting terjadwal, dan upload langsung dari komputer.

Menurut Muhadjir, salah satu faktor rendahnya kemampuan matematika juga IPA dan bahasa adalah standar yang diberlakukan selama ini yang masih memakai kemampuan berpenalaran sebagai dasar.

Dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menurut Muhadjir, pemerintah sudah mulai melakukannya melalui memperkenalkan soal HOTS dalam ujian nasional (UN).

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad mengaku belum membaca hasil riset tersebut sehingga ia enggan untuk menanggapi.

“Saya belum membaca hasil risetnya. Kalau punya, saya mau baca dulu baru saya komentar,” kata Hamid menjawab pertanyaan SP.

Rendahnya kemampuan matematika Indonesia ini juga terlihat dari hasil The Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2000 hingga 2015. Secara konsisten, PISA menempatkan siswa Indonesia yang berusia 15 tahun pada peringkat bawah dibandingkan negara-negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lainnya.

“Jika ini dibiarkan, generasi emas Indonesia terancam bisa gagal membangun peradaban Indonesia di masa yang akan datang,” ujar Niken dalam Deklarasi Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) di Universitas Indonesia (UI) Depok, Sabtu (10/11).

Jika ditelaah lebih dalam, lanjutnya, dari rendahnya hasil PISA ini, ditemukan bahwa anak-anak Indonesia ternyata belum mampu menerapkan pengetahuan prosedural matematika ke dalam permasalahan yang dihadapinya sehari-hari. Hasil ini juga dikonfirmasi oleh hasil-hasil tes internasional lain seperti Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS).

Selain hasil PISA, Niken juga menyebutkan, gawat darurat bermatematika ini juga ditunjukkan dalam studi pemerintah yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui program Indonesia National Assessment Program (INAP) yang kemudian berubah nama menjadi Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI).

“Studi INAP yang dilakukan Kemdikbud juga menjelaskan hal yang tak jauh berbeda. Pada 2016, kompetensi matematika siswa SD merah total. Sekitar 77,13% siswa SD di seluruh Indonesia memiliki kompetensi matematika yang sangat rendah (kurang), 20,58% cukup dan hanya 2,29% yang masuk kategori baik,” terangnya,

Selanjutnya, setelah berubah nama menjadi AKSI, pemerintah kembali melakukan studinya dengan responden siswa SMP kelas VIII pada 2017 di dua provinsi. Dari studi itu, hasil kompetensi literasi matematika rata-rata hanya berada pada nilai 27,51 dalam skala 0-100.

Lebih lanjut, Niken juga menuturkan, kondisi kegawatdaruratan ini belum juga beranjak sejak tahun 2000 silam. Data Indonesia Family Life Survey (IFLS) pada 2000, 2007 dan 2014 yang mewakili 83% populasi Indonesia juga menunjukkan kedaruratan bermatematika.

Kedaruratan terjadi karena jumlah responden yang memiliki kompetensi kurang sangat tinggi. Lebih dari 85% lulusan SD, 75% lulusan SMP, dan 55% lulusan SMU hanya mencapai tingkat kompetensi siswa di bawah kelas 2 SD. Hanya sedikit saja yang memiliki tingkat kompetensi di atas kelas 4 dan 5 SD.

“Survey IFLS ini menunjukkan kemunduran kompetensi siswa secara akut. Kita tidak boleh mengabaikan temuan-temuan ini jika ingin bangsa Indonesia lebih baik, tidak bangkrut atau bubar karena kualitas SDM bangsa ini dari tahun ke tahun mengalami penurunan signifikan,” kata Presidium Gernas Tastaka, Ahmad Rizali.

Pasang Iklan Banner Gratis Selamanya

Pasang Iklan Banner Gratis Selamanya

JASA PEMBUATAN WEBSITE MURAH & PROFESIONAL

Website: www.amubaweb.com

Melayani Pembuatan Website: Berita, Profile Caleg, Profile Perusahaan, Organisasi atau Sekolah, Toko Online, dan lain-lain.Domain Gratis, Hosting Unlimited, Tampilan sesuai Permintaan, Aman dari Hacker. Hubungi: Telp./WA: +6281294635834

Subscribe

Mari bergabung dengan 3.889 pelanggan Babegus.com dengan memasukkan E-mail aktif Anda di bawah ini. E-mail Anda dirahasiakan. Terima kasih.