Biografi Turunan Gulo | BABEGUS.COM

Biografi Turunan Gulo

Biografi Turunan Gulo

Jalan Panjang Menuju Senayan


Jadi pejabat dulu baru peduli?   Atau karena jadi caleg, baru peduli?

Tampaknya itu tidak berlaku bagi pemuda kelahiran Nias 48 tahun silam
itu.   Kepedulian kepada rakyat sudah terlatih sejak lama, ketika masih
berstatus sebagai mahasiswa.  Dari kegiatan yang relatif “ringan”
sampai yang paling berisiko.

Ketika masih berstatus mahasiswa, ia pernah melakukan pendampingan
anak jalanan di Medan ; meneriakkan berbagai kasus pencemaran atau
kerusakan lingkungan;  mendampingi petani yang kehilangan tanahnya;
 berjuang bersama buruh yang menuntut hak-haknya.

Anak kedua dari pasangan Masanudin Gulo-Riami Manao itu tercatat
sebagai pelaku sejarah gerakan reformasi pada masa Orde Baru.  Kerap
melakukan aksi perlawanan terhadap sistem dan praktik politik yang tidak
demokratis, yang membelenggu kemerdekaan memilih, berpendapat,
berorganisasi dan berkumpul.

Ribuan Marketer sudah memakai tool ini untuk

Mengelola semua akun media sosial Facebook & Instagram

Nikmati kemudahan, posting terjadwal, dan upload langsung dari komputer.

Pada 1996, ketika digelar Kongres Luar Biasa (KLB) PDI yang bertujuan
menumbangkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umumnya, ia bergabung
dengan aktivis prodemokrasi  untuk menentang rekayasa rezim Orde Baru
itu, dengan melakukan serangkaian aksi-aksi serta menulis opini di media
massa.

Ia memang bukan anggota PDI pimpinan Megawati pada masa itu,   Namun
dia punya alasan yang sangat kuat ketika melakukan perlawanan itu.  “Ada
keyakinan yang amat-sangat di kalangan aktivis prodemokrasi, bahwa
Megawati yang ketika itu disimbolkan sebagai pemimpin wong cilik, 
merupakan korban rezim Orde Baru yang  militeristik  dan antidemokrasi. 
Jadi, gerakan  yang dibangun semacam kolaborasi  politik untuk
menyebarluaskan perlawanan  rakyat  terhadap  rezim yang otoriter,“
urainya.

Selain itu, pada tahun yang sama, ketika situasi politik  masih penuh
tekanan, ia  bersama  aktivis prodemokrasi di Sumut mendirikan Komite
Independen Pemantau Pemilu (KIPP) di Sumut,  yang berujung pada
pembakaran Kantor LBH Medan–di mana KIPP tersebut didirikan.  Ia dan
kawan-kawannya tidak gentar.  KIPP Sumut tetap dikibarkan.  Ia pun
dipercaya sebagai salah seorang presidum KIPP Sumut pada masa itu.

Selain itu, alumnus Fakultas Pertanian dari Universitas HKBP
Nommensen itu  juga aktif dalam arak-arakan gerakan reformasi sepanjang
tahun 1997-1998, yang kemudian berhasil menumbangkan Soeharto pada Mei
1998.

Pascatumbangnya Soeharto, suami dari Friska Sihombing itu sebenarnya
berpeluang besar menjadi anggota legislatif pada Pemilu 1999.  Tapi, ia
justru memilih melanjutkan perjuangan di luar sistem.

“Saya hanya ingin memberi  pembelajaran, bahwa perjuangan itu bukan
sekadar rebut-merebut kekuasaan atau  memanfaatkan  peluang.  Ada banyak
agenda reformasi yang mesti dikawal dari luar.  Jangan semua masuk ke
dalam sistem.  Perlu bagi-bagi tugas.  Ada waktu yang pas buat saya
untuk terjun di wilayah politik formal.  Menjadi wakil rakyat tidak
boleh asal-asalan, seharusnya matang dengan pengalaman dan kemampuan,” 
ujar ayah dari Ingwer Arief Budiman Gulo.

Karena prinsip  tersebut, maka ia bersama puluhan aktivis
prodemokrasi di Sumut membentuk Aliansi Gerakan Rakyat Sumatera Utara
(AGRESU), yang fokus pada pendidikan politik dan penguatan organisasi
rakyat di Sumatera Utara.   Lewat AGRESU, lahir  beberapa organisasi
rakyat,  seperti Gerakan Rakyat untuk Reformasi Agraria (Gerag) yang
memperjuangkan tanah-tanah rakyat.   Tidak lama kemudian, lahir Keluarga
Besar Supir/Pemilik Angkutan Umum pro Reformasi (Kesper) yang
memperjuangkan aspirasi para supir angkutan umum di Kota Medan.  Selain
itu, terbentuk Ikatan Pedagang Kaki Lima (iklim) yang memperjuangkan
hak-hak para pedagang kaki lima di Kota Medan.

Bersama teman-temannya ia juga mendirikan  Perhimpunan Bantuan Hukum
dan Hak Asasi  Manusia Indonesia (PBHI) Sumut yang bergerak pada
pendampingan hukum dan perjuangan hak asasi manusia di Sumatera Utara.

Menjelang Pemilu 1999, ia fokus pada kegiatan pendidikan pemilih,
yakni sebuah usaha untuk mencerdaskan rakyat agar lebih siap dan cerdas
untuk memilih.   Setelah Pemilu 1999 berhasil melahirkan anggota
legislatif, ia bersama rekan-rekannya, membentuk sebuah lembaga
pengawasan  parlemen (Institute for Parliament Watch).

Roh gerakan reformasi juga ditularkan di tanah kelahirannya, Nias,
dengan membentuk wadah gerakan bernama Forum Aksi Reformasi Mahasiswa 
Nias (FARMAN) pada tahun 1998.    Pada akhir 1998, bersama sejumlah
aktivis prodemokrasi yang ada di Medan dan Nias, mendirikan Lembaga
Pencerahan dan Advokasi Masyarakat  Nias (LPAM Nias), yang fokus pada
pendidikan politik  serta pembelaan/pendampingan masyarakat Nias.

Bersama jaringan aktivis prodemokrasi di Kepulauan Nias, LPAM Nias
mengambil bagian dalam menyuarakan berbagai isu-isu  KKN; pelanggaran
hak asasi manusia (HAM); kasus perampasan tanah rakyat, kasus perusakan
hutan oleh PT GRUTI dan PT Teluk Nauli dan lain sebagainya.

Saat banjir bandang menerjang Kepulauan Nias pada 2001 lalu, LPAM
Nias juga terlibat aktif untuk menyalurkan bantuan kepada korban.

Demikian juga pascagempa-tsunami pada 2005 lalu, bersama mitranya,
LPAM Nias juga terlibat aktif untuk menyalurkan bantuan pangan, bahkan
ikut membangun sekitar 125 unit rumah bagi korban bencana serta  5 unit
sekolah,   Selain itu, lembaga ini melakukan serangkaian kegiatan
pengembangan ekonomi kerakyatan di Nias.

Di organisasi Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (Himni), ia bersama
rekannya terlibat dalam kegiatan pengembangan sumberdaya manusia,
advokasi beberapa kasus yang menimpa warga Nias, khususnya di daerah
perantauan.  Lewat organisasi ini, ia juga getol mempromosikan potensi
seni-budaya dan pariwisata Nias.

Berbagai aktivitas sosial-politik yang dilakoninya pada masa Orde
Baru itu harus dibayar dengan berbagai pengorbanan. Kuliahnya
terbengkalai  sekitar  4 tahun.  Pernah ditangkap oleh aparat keamanan. 
Juga pernah diburon oleh militer selama dua bulan usai meletusnya
Tragedi Kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta.

Lebih dari itu  ia pernah dicap sebagai antek-PKI.  Ia sama sekali
tidak menyesal.  “Itu vitamin yang sangat berkhasiat menambah daya tahan
hidup,” katanya.

Mengembangkan kapasitas
Baginya, nyali dan kepedulian saja tidak cukup.  Oleh karena itu, dia
berusaha mengembangkan kapasitasnya dengan berbagai pendidikan dan
pelatihan, baik formal maupun informal.  “Aktivis itu tidak sekadar jago
teriak-teriak.  Aktivis juga tidak mesti miskin,” tuturnya.

Dia terinspirasi dengan sejumlah aktivis, semisal alm. Soe Hok Gie
atau  Arief Budiman, yang selain turun ke jalan, juga unggul dalam
nilai-nilai intelektualitas.

Meski terlambat, tapi gelar sarjana berhasil diraihnya dari
Universitas HKBP Nommensen pada akhir 1997.   Ia juga berkesempatan 
menyelesaikan strata dua di Magister Studi Pembangunan Universitas
Sumatera Utara pada 2008.

Selain pendidikan formal, ia rajin mengikuti diskusi, seminar,
pelatihan, kursus, lokakarya, studi lapangan, dan lain sebagainya. 
“Tujuannya, untuk  mengembangkan wawasan, ilmu pengetahuan, keahlian dan
keterampilan,’ ungkapnya.

Pada masa Orde Baru, ia dikenal sebagai seorang aktivis yang, selain
rajin turun ke jalan, juga mampu menulis artikel atau opini di berbagai
media massa—di antaranya Harian Analisa, Harian Waspada, Harian Sumut
Pos, Media Indonesia dan KOMPAS.   Ia juga memiliki kemampuan berdebat
dengan para pengambil kebijakan.

Sebagai pengakuan bahwa ia memiliki kapasitas, maka  tidak jarang
yang bersangkutan diundang sebagai fasilitator atau narasumber dalam
berbagai pertemuan, diskusi, pelatihan, lokakarya, seminar.

Dalam satu kesempatan pra-Consultative Group on Indonesia (CGI)
Meeting yang diselenggarakan oleh Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia,
pada 2001 di Jakarta, ia pernah didaulat menjadi juru bicara organisasi
masyarakat sipil (OMS) di Indonesia.  Tugasnya,  merumuskan dan
menyampaikan secara langsung sikap OMS tentang permasalahan utang luar
negeri yang melilit Indonesia  kepada sejumlah menteri.

“Ketika itu hadir Menko Perekonomian Prof. Doradjatun Kuntjoro-jakti
dan Menteri/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie serta puluhan duta besar dan
utusan negara kreditur/donor.  Kita berdiskusi bahkan berdebat.   Itu
pengalaman saya yang cukup mengesankan.  Kepercayaan diri saya makin
menebal,” kenangnya.

Berbekal pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya itulah  yang
membuat  dia berani melamar sebagai salah seorang komisioner  Komisi
Pemilihan Umum Provinsi (KPU) Provinsi Sumaera Utara pada 2003, meski
persaingan ketika itu sangat ketat.  “Saya sadar benar, bahwa saya dari
suku minoritas di Sumut, ketika itu sarjana strata satu.  Saingan saya
banyak dan  orang-orang hebat semua,” ujarnya.

Ternyata nasib baik berpihak kepadanya:  ia lolos, bahkan terpilih
lagi untuk periode kedua.   Ia berkiprah selama 10 tahun sebagai
Komisioner KPU Sumut.  Berkpirah dengan cukup gemilang. Tanpa ada
catatan hitam. Sepotong surat peringatan ringan pun tak pernah
diterimanya.

Berkarakter
Turunan Gulo ditempah sebagai seorang yang nasionalis dan terbuka. 
Sejak kecil hingga dewasa, sudah terbiasa bergaul dengan orang dari
berbagai suku, ras, agama berbeda.   “Keragaman itu indah,” ujarnya. 
Maka, ia membuka diri untuk  bersahabat dengan siapa saja.

Ia juga dikenal ramah dengan semangat pelayanan tinggi selama menjadi
Komisioner KPU Sumut.  “Tidak  jarang, ada orang yang konsultasi tengah
malam, kita layani juga sepanjang ponsel masih aktif dan belum
istrahat.  Orang yang tidak memperkenalkan namanya atau tidak dikenal
pun tapi butuh penjelasan, baik ketemu langsung, lewat telefon atau SMS,
sebisa-bisanya saya respons,” tuturnya.  Ia orang yang amat menyadari
bahwa pemimpin itu seharusnya rendah hati dan melayani.

Ramah bukan berarti lembek.  Ini sikap unik yang dimilikinya.  Dalam
menjalankan tugas serta ketika mengambil sebuah keputusan, ia dikenal
tegas dan berani.  Teror, ancaman, intimidasi sudah sering dihadapinya. 
Tapi, ia tetap maju dengan prinsip dan keyakinannya.

Dia juga bukan peragu ketika harus mengambil keputusan yang
dilematis.  “Apapun keputusan tidak akan memuaskan semua pihak.  Tapi
seorang pemimpin itu harus berani mengambil keputusan, dengan risiko
apapun.  Masalahnya, setiap keputusan sebaiknya punya pijakan hukumnya,
kita meyakininya,  sehingga bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Karakter dasar inilah yang membuatnya mampu bertahan dan sukses menjalankan tugas sebagai komisioner KPU Sumut selama 10 tahun.

Jaringan dan kepemimpinan
Jejaring serta kepemimpinan adalah modal yang mesti dimiliki oleh
seorang politisi.  Tentu tidak diragukan lagi,  penggemar pisang goreng
ini sudah cukup terlatih. Sejak mahasiswa sudah aktif di berbagai
organisasi, baik dalam kampus seperti Badan Perwakilan Mahasiswa
Fakultas maupun Senat Mahasiswa Universitas.  Ia juga tercatat sebagai
anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Medan dan aktif
selama 6 tahun di Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM).

Ia berpengalaman  memimpin sejumlah organisasi, di antara sebagai
Presidium Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumut pada 1996 dan
  Presidium Aliansi Gerakan Reformasi Sumut pada 1998-2002.

Selama beberapa tahun, memimpin sebuah organisasi nonpemerintah, yang
terkenal dengan istilah LSM, yakni Lembaga Pencerahan dan Advokasi
Masyarakat  Nias (LPAM NIas) serta Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak
Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumut.

Sejak 2012, ia dipercaya sebagai Ketua DPD Himpunan Masyarakat Nias
Indonesia (HIMNI) Sumut.   Sebagai bentuk pengabdian kepada almamater,
ia  didaulat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Alumni
Universitas HKBP Nommensen,  sejak 2012 hingga 2021.

Belakangan ini, ia diberi amanah untuk memimpin sebuah organisasi
profesi, yakni  Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (Pispi) Sumut.

Sebagai orang yang andal dan mudah bergaul, ia juga diajak bergabung
di Horas Halak Hita (H3)—sebuah komunitas tokoh asal Batak dan etnis
lainnya.

Perjuangan politik formal

Sebagai orang yang sudah menikmati asam-garam  politik, maka tak
perlu kaget kalau ayah satu anak ini  pernah memutuskan mengundurkan
diri sebagai Komisioner KPU Sumut pada awal April 2013 lalu. Pengggemar
musik pop-rock ini terjun sebagai calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah
(DPR RI) Daerah Pemilihan Sumut.

Ia bertanding  dengan segala keterbatasan.  “Modal saya  keberanian
dan jejaring,” ujarnya.  “Uang saya habis sekitar 80 juta rupiah. 
Hampir 90% biaya  perjuangan dibantu oleh relawan yang bertebaran di
mana-mana,” ungkapnya.

Nasib belum mujur.  Perolehan suaranya tidak mampu mengantarkannya
sebagai satu dari empat senator Sumut.   Meskipun demikian, ia merasa
tidak patah arang.  Ia tegar menerima kenyataan itu sebagai jalan
hidup.  “Saya tidak mesti stres.  Biaya yang saya keluarkan relatif
sangat sedikit.  Bandingkan dengan kandidat lainnya. Dengan pengeluaran
sedikit, saya bisa mendapatkan sekitar 300 ribu suara.  Kandidat lainnya
ada yang menghabiskan sekitar Rp 4 miliar, mendapatkan sekitar 350 ribu
suara.  Saya bahkan menggunguli suara mantan Senator dan mantan
Gubernur Rudolf Pardede, “ ujarnya mantap.

Baginya, bertanding pada Pemilu 2014 merupakan eksperimentasi demokrasi yang nyata dan sarat  pembelajaran.

Pada April 2017 lalu, ia membuat sejarah baru dalam hidupnya. 
Melepas segala embel ‘nonpartisan” yang melekat di dirinya selama
puluhan tahun.  Ia memilih PDI Perjuangan sebagai kanal perjuangan. 
Alasannya, partai tersebut konsisten membela NKRI, keberagaman,
Pancasila, serta perjuangan kerakyatan.

Tidak mau kepalang basah, ia melamar sebagai calon anggota DPR RI. 
Gayung bersambut.  DPP PDI Perjuangan yang dipimpin oleh Megawati
Soekarnoputri, memberikan kesempatan kepadanya untuk bertanding di
daerah pemilihan Sumatera Utara II.  Daerah pemilihannya tersebar di 19
kab/kota, yakni Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat,
Gunungsitoli, Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba Samosir,
Humbang Hasundutan, Samosir, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal,
Padangsidempuan, Padanglawas, Padanglawas Utara, Labuhan Batu, Labuhan
Batu Utara, Labuhan Batu Selatan.

“Saya ingin merebut dan mengelola kekuatan politik untuk memperjuangkan kepentingan warga dan daerah pemilihan saya, khususnya Tanoniha,” tegasnya.

Menurutnya, kebutuhan di bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan,
ekonomi kerakyatan, hanya bisa efektif diperjuangkan lewat power politik yang nyata.

‘Tempatnya,  ya, di Senayan sana.  Jangan tanggung berkiprah. 
Intinya,  perjuangan anggaran dan mobilisasi program di berbagai
kementerian, untuk disalurkan ke daerah pemilihan,” ujarnya memberikan
argumentasi.

Lelaki separuh baya ini juga sangat mendukung perjuangan pembentukan
Provinsi Kepulauan Nias.  “Itu wajib hukumnya.  Saya sudah terlibat
cukup aktif.  Ini perjuangan bersama yang harus dituntaskan” tegasnya.

Bagaimana peluangnya untuk menembus Senayan?  Ia sangat optimis. 
“Saya sudah melakukan analisis data dan simulasi. Pilpres yang dilakukan
serempak dengan Pileg, memberikan dampak elektoral yang positif buat
PDI Perjuangan.  Metode konversi suara a la sainte lague juga
memberikan keuntungan tersendiri bagi partainya yang berbasis kuat di
Sumut II.  Variabel lain adalah tulang punggung suara yang semakin
banyak. Kami ada 4 orang yang potensial menghimpun suara lebih besar. 
Lalu, secara personal, saya punya peluang besar menghimpun suara secara
signifikan, sehingga bisa nangkring di rangking dua atau tiga,” urainya.

Wajar saja dia optimis.  Popularitasnya masih terjaga pascapemilu
2014.  Ia seorang yang cukup giat di ruang media sosial.  Aktivitas
sosial-politiknya terus dilakukan.

“Perjuangan saya tidak  dimulai dari nol. Jejak sebagai calon senator pada 2014 silam tinggal di-refresh.   Itu
keuntungan saya.  Tentunya, kerja keras dan jejaring adalah modal untuk
merebut suara sebanyak-banyaknya.  Selebihnya, kepasrahan kepada Tuhan
Yang Mahakuasa,” ujarnya.

Kiranya ikhtiar dan perjuangannya berhasil.

Pasang Iklan Banner Gratis Selamanya

Pasang Iklan Banner Gratis Selamanya

JASA PEMBUATAN WEBSITE MURAH & PROFESIONAL

Website: www.amubaweb.com

Melayani Pembuatan Website: Berita, Profile Caleg, Profile Perusahaan, Organisasi atau Sekolah, Toko Online, dan lain-lain.Domain Gratis, Hosting Unlimited, Tampilan sesuai Permintaan, Aman dari Hacker. Hubungi: Telp./WA: +6281294635834

Subscribe

Mari bergabung dengan 3.889 pelanggan Babegus.com dengan memasukkan E-mail aktif Anda di bawah ini. E-mail Anda dirahasiakan. Terima kasih.