Bagaimana Kotak Suara Kardus Rawan Dimanipulasi? | BABEGUS.COM

Bagaimana Kotak Suara Kardus Rawan Dimanipulasi?

Bagaimana Kotak Suara Kardus Rawan Dimanipulasi?

Jakarta, Babegus Penggunaan kotak suara berbahan kardus kedap air pada Pemilu 2019 menuai polemik. Meskipun sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Argentina, dan Australia, namun kondisi geografis Indonesia berbeda, sehingga harus diperhatikan kualitas bahan. Selain itu, bahan yang digunakan untuk kotak suara juga harus mempertimbangkan potensi manipulasi.

“Satu negara dengan negara lain enggak bisa disamakan. Kita tahu geografis Indonesia masih banyak wilayah yang sulit. Harus melewati air, dibawa dengan perahu-perahu kecil yang air dengan mudah bisa masuk,” kata Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampouw, di Jakarta, Senin (17/12).

Selain itu, lanjutnya, Indonesia juga memiliki banyak daerah pegunungan yang rentan dengan turunnya hujan. “Kotak suara dari karton atau kardus tersebut sebaiknya tidak digunakan di daerah-daerah dengan geografis rumit. Di daerah yang sulit mungkin harus tetap dari bahan aluminium,” tuturnya.

Dia mengingatkan, polemik terkait bahan yang digunakan untuk kotak suara sudah muncul sejal awal tahun ini. “Tampaknya KPU mengalami persoalan komunikasi, khususnya, terkait polemik kotak suara dari kardus, yang sudah dimulai pada awal 2018. Namun, publik tidak pernah mendapatkan informasi yang utuh,” ungkap Jeirry.

Ribuan Marketer sudah memakai tool ini untuk

Mengelola semua akun media sosial Facebook & Instagram

Nikmati kemudahan, posting terjadwal, dan upload langsung dari komputer.

Ditambahkan, akibat informasi yang tidak utuh, wajar jika ada pihak khawatir bahan dasar kotak suara ini rawan dimanipulasi. Jika ini benar terjadi, tentu akan mencederai kualitas pemilu dan demokrasi. “Aspek keamanan juga sepatutnya dikemukakan ke khalayak umum. Dengan begitu, publik tidak mempunyai asumsi tersendiri,” katanya.

Menurutnya, jika sejak awal KPU melakukan sosialisasi mengenai hal ini, akan menghindari politisasi. Apalagi, kotak serupa pernah digunakan saat pilkada. “Ada fakta seperti itu, tetapi masyarakat banyak yang tidak paham. Sebaiknya jangan menunggu viral baru ada penjelasan,” ujarnya.

Selain soal kotak suara, Jeirry juga meminta KPU untuk memperhatikan distribusi logistik Pemilu 2019, khususnya, di wilayah dengan kondisi geografis yang sulit seperti pegunungan dan kepulauan. “Distribusi logistik selalu jadi masalah. Selama ini ada daerah-daerah yang memang sering terkendala persoalan distribusi,” katanya.

Menurutnya, KPU semestinya telah mengantisipasi seluruh potensi permasalahan distribusi sejak jauh hari. Dengan demikian, distribusi logistik bisa tepat waktu. “Misalnya dengan mempercepat distribusi di daerah tertentu. Sebab, jika mengikuti jadwal biasa, distribusi akan molor. Apalagi kemudian kalau saat distribusi cuacanya berat. Hujan yang paling mengganggu. Di Papua atau daerah kepulauan. Mestinya sudah bisa diantisipasi dari sekarang,” ujar Jeirry.

Penjelasan Terbuka
Sementara itu, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraeni meminta KPU untuk secara terbuka dan komprehensif menjelaskan soal spesifikasi, anggaran, fungsi, dan keamanan kotak suara yang terbuat dari kardus kepada publik. Langkah tersebut perlu dilakukan untuk mengurangi keragu-raguan masyarakat terkait penggunaan kotak suara karton.

KPU juga semestinya menyampaikan alasan, pertimbangan, argumen, dan logika di balik pembuatan keputusan untuk memilih kotak suara karton dari 5 varian pilihan kotak suara transparan yang pernah disimulasikan KPU sejak akhir 2017,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kotak suara karton sejatinya sudah digunakan untuk kepentingan penyimpanan surat suara sejak Pemilu 2014. Penggunaannya berlanjut pada Pilkada Serentak 2015, 2017, dan 2018. Pada awalnya, kotak suara karton hanya digunakan untuk melengkapi kekurangan kotak suara aluminium yang ketika itu masih digunakan.

“Bahkan, kotak suara aluminium sudah dipakai sejak Pemilu 2004, namun jumlahnya makin menyusut karena rusak, hilang, dicuri, ataupun kurang, akibat pertambahan jumlah pemilih dari pemilu ke pemilu,” ungkapnya.

Pada waktu itu, kotak suara kartonnya tidak transparan, alias semua sisinya berupa karton kedap air. Karton kedap air dengan sisi transparan baru pertama kali digunakan karena perintah Pasal 341 UU 7/2017 tentang Pemilu, yang menyebutkan isi surat suara harus bisa dilihat dari luar dan penggunaannya pun untuk seluruh TPS yang ada.

Dia mengakui, penggunaan kotak suara dari kardus ini memicu kontroversi dan cenderung dipolitisasi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi KPU. Terlebih sekaligus untuk membuktikan bahwa kotak suara ini memiliki standar kemampuan minimum untuk menyimpan surat suara yang sudah dicoblos pemilih.

“Selain juga KPU tentunya juga harus menjelaskan instrumen pengamanan yang disediakan KPU untuk memastikan keamanan surat suara yang ada di dalam kotak suara kardus itu,” katanya.

Titi mengingatkan, meskipun berbahan kardus kedap air, kotak suara semacam itu tetap berpotensi rusak jika terendam air. Selain itu juga lebih mudah terbakar, dan terkena rayap bila penyimpanannya tidak cermat. “Namun hal itu bergantung penuh pada tata kelola kotak suara oleh KPU, bagaimana penyimpanannya di gudang nanti, dan juga pengawasannya,” ujarnya.

Karena itu, KPU harus memastikan bahwa mereka punya prosedur operasi standar (SOP) dalam pengelolaan dan pengamanan kotak suara ini. “SOP ini harus dipahami dan ditaati seluruh jajaran sampai ke tingkat yang paling bawah,” katanya.

Secara terpisah, anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Chusni Mubarok menilai wajar jika keputusan KPU menuai kritik dari masyarakat. Menurutnya, hal ini semakin menambah keraguan masyarakat mengenai kredibilitas Pemilu mendatang.

“Saat ini kan marak ancaman Pemilu 2019 berlangsung tidak fair. Mulai dari tercecernya e-KTP hingga daftar pemilih yang juga masih bermasalah,” ujar Chusni di Jakarta, Minggu (16/12).

Ditambah lagi kondisi fisik kotak suara seperti ini. Inilah yang akan memunculkan kecurigaan di tengah masyarakat. “Seharusnya KPU sangat peka dengan perkara semacam ini. Karena indikasi kecurangan di pilpres mendatang sudah sangat terang. Jika tidak dapat dicegah sejak saat ini, khawatir masyarakat akan semakin kehilangan kepercayaannya kepada penyelenggara pemilu. Bahkan siapapun bisa buka kardus itu tanpa berbekas atau tanpa buka gemboknya. Sepertinya banyak orang juga bisa lakukan itu. Artinya gembok di situ enggak ada artinya,” katanya.

Sumber: Suara Pembaruan

Pasang Iklan Banner Gratis Selamanya

Pasang Iklan Banner Gratis Selamanya

JASA PEMBUATAN WEBSITE MURAH & PROFESIONAL

Website: www.amubaweb.com

Melayani Pembuatan Website: Berita, Profile Caleg, Profile Perusahaan, Organisasi atau Sekolah, Toko Online, dan lain-lain.Domain Gratis, Hosting Unlimited, Tampilan sesuai Permintaan, Aman dari Hacker. Hubungi: Telp./WA: +6281294635834

Subscribe

Mari bergabung dengan 3.889 pelanggan Babegus.com dengan memasukkan E-mail aktif Anda di bawah ini. E-mail Anda dirahasiakan. Terima kasih.